Lamongan, 27 Agustus 2026 — Rangkaian Offline Session MegPreneur Lamongan 2026 pada Kamis (27/8/2026) kembali menghadirkan pengalaman praktis dari pelaku usaha yang telah melalui program MegPreneur. Kali ini, Kurniawan Adi Prastyo, S.Si., CEO Sedesa Farm sekaligus alumni MegPreneur 2025, berbagi pengalaman dan model pengembangan bisnis agribisnis yang dibangun Sedesa Farm melalui pendekatan pertanian terpadu dan berorientasi pasar.
Dalam pemaparannya, Kurniawan memperkenalkan Sedesa Farm sebagai startup agribisnis yang sejak 2014 mengembangkan konsep “Heirloom Seeds Bank and Integrated Farming”. Sedesa Farm tidak hanya berfokus pada produksi pertanian, tetapi membangun ekosistem yang menghubungkan input, produksi, pengolahan, pemasaran, hingga kemitraan.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana bisnis di sektor pertanian dapat dikembangkan dengan perspektif yang lebih luas. Produk pertanian tidak berhenti pada aktivitas budidaya, tetapi dapat diperkuat melalui penyediaan input, pengolahan, teknologi, pembangunan pasar, dan kemitraan dengan petani.
“Bisnis agribisnis tidak cukup hanya menghasilkan produk pertanian. Kita perlu membangun ekosistem dari input, produksi, pengolahan, pemasaran sampai kemitraan, sehingga setiap mata rantai dapat menciptakan nilai dan saling mendukung.”
— Kurniawan Adi Prastyo, CEO Sedesa Farm & Alumni MegPreneur 2025
Membangun Kemitraan dengan Petani
Salah satu model yang dikembangkan Sedesa Farm adalah menjadi aggregator antara petani dan pasar. Dalam skema tersebut, Sedesa Farm menyediakan sejumlah kebutuhan untuk mendukung proses produksi, mulai dari benih, SOP budidaya, pendampingan, sarana produksi dan teknologi, hingga monitoring tanaman.

Di sisi lain, petani berkontribusi melalui penyediaan lahan dan tenaga kerja, pemeliharaan tanaman, serta komitmen untuk mengikuti SOP budidaya yang telah ditetapkan. Model tersebut dirancang untuk menghubungkan kapasitas petani dengan kebutuhan pasar secara lebih terstruktur.
“Kemitraan bukan hanya hubungan antara penyedia dan penerima. Yang dibangun adalah ekosistem. Petani memiliki lahan dan tenaga, sementara kami membantu dari sisi benih, SOP, pendampingan, teknologi, monitoring, sampai menghubungkan hasil produksi dengan pasar.”
— Kurniawan Adi Prastyo
Dalam materi yang dipaparkan, Sedesa Farm saat ini memiliki tim inti sebanyak tiga orang, tenaga bantu dua orang, tenaga kerja enam orang, serta bermitra dengan 93 petani. Model tersebut menjadi bagian dari pengembangan ekosistem agribisnis yang dibangun Sedesa Farm.
Melihat Nilai Tambah di Komoditas Pertanian
Kurniawan juga menunjukkan bagaimana Sedesa Farm mengembangkan beberapa unit usaha, salah satunya pembenihan padi berlabel dan nonlabel. Pendekatan tersebut menunjukkan pentingnya melihat rantai nilai pertanian secara lebih menyeluruh, termasuk bagaimana penyediaan benih berkualitas dapat menjadi bagian dari model bisnis sekaligus mendukung produktivitas petani.
Selain pembenihan padi, Sedesa Farm mengembangkan melon premium melalui sistem greenhouse. Komoditas tersebut dipilih dengan mempertimbangkan karakteristik pasar, antara lain harga jual yang lebih tinggi, tampilan menarik, rasa manis, kualitas yang seragam, serta segmen konsumen yang lebih spesifik.
Pasar yang dituju untuk melon hidroponik greenhouse Sedesa Farm antara lain supermarket, toko buah premium, dan konsumen agrowisata. Sedesa Farm juga mengembangkan tujuh varietas melon premium yang diproduksi dari kebun hidroponik greenhouse.
“Kita perlu melihat komoditas pertanian bukan hanya dari sisi apa yang bisa diproduksi, tetapi juga siapa yang akan membeli dan nilai seperti apa yang bisa diberikan. Ketika produk memiliki kualitas, segmen pasar, dan positioning yang jelas, komoditas pertanian dapat memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.”
— Kurniawan Adi Prastyo
Teknologi untuk Mendorong Precision Agriculture
Pengembangan bisnis Sedesa Farm juga ditopang oleh pemanfaatan teknologi pertanian. Dalam presentasinya, Kurniawan memperlihatkan penerapan sejumlah teknologi seperti auto dosing nutrisi, sensor kelembaban, smart irrigation, dan digital farm monitoring.
Teknologi tersebut diarahkan untuk mendukung konsep precision agriculture, yaitu pengelolaan pertanian dengan memanfaatkan data dan sistem monitoring agar proses budidaya dapat dilakukan secara lebih terukur.
Pemanfaatan teknologi menjadi semakin relevan ketika skala bisnis berkembang. Data dan sistem monitoring dapat membantu pelaku usaha memahami kondisi tanaman, lingkungan, serta kebutuhan budidaya sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan berdasarkan informasi yang lebih terukur.
“Teknologi bagi kami bukan sekadar mengikuti tren. Teknologi digunakan untuk membuat proses pertanian lebih terukur, mulai dari nutrisi, kelembaban, irigasi hingga monitoring. Tujuannya adalah precision agriculture, sehingga keputusan dalam budidaya dapat dibuat berdasarkan data.”
— Kurniawan Adi Prastyo
Mengintegrasikan Berbagai Unit Usaha
Salah satu hal yang menarik dari model Sedesa Farm adalah upaya mengintegrasikan berbagai aktivitas dalam ekosistem agribisnis. Materi yang dipresentasikan menunjukkan hasil integrasi sistem yang mencakup berbagai produk pertanian dan turunannya, mulai dari produk beras, komoditas pertanian, melon, hingga aktivitas peternakan dan sarana produksi.
Pendekatan integrasi tersebut memperlihatkan bahwa bisnis pertanian dapat dikembangkan melalui lebih dari satu sumber nilai. Pelaku usaha dapat membangun hubungan antarkomoditas, mengembangkan produk turunan, memperluas pasar, serta menciptakan hubungan kemitraan yang saling menguntungkan.
Bagi peserta MegPreneur yang bergerak di sektor agribisnis, pengalaman Sedesa Farm memberikan contoh bahwa pengembangan bisnis dapat dimulai dari komoditas yang dimiliki, kemudian dikembangkan secara bertahap melalui penguatan rantai nilai.
Alumni MegPreneur Membawa Pengalaman ke Peserta Baru
Kehadiran Kurniawan sebagai alumni MegPreneur 2025 juga memberikan dimensi tersendiri dalam rangkaian Offline Session. Peserta tidak hanya mendapatkan materi konseptual, tetapi juga melihat contoh perjalanan bisnis dari alumni yang telah mengembangkan usahanya di sektor agribisnis.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa proses membangun bisnis berlangsung secara bertahap. Mulai dari memahami masalah, menemukan model bisnis, membangun kemitraan, mengembangkan produk, memanfaatkan teknologi, hingga menemukan pasar yang sesuai.
Bagi peserta AgroMeg, pengalaman Sedesa Farm dapat menjadi referensi bahwa sektor pertanian memiliki ruang pengembangan yang luas apabila dikelola dengan pendekatan bisnis dan berorientasi pada pasar.
“Potensi pertanian sangat besar, tetapi kita perlu mengubah cara pandang dari sekadar memproduksi menjadi membangun bisnis. Ketika petani, teknologi, produk, dan pasar dapat terhubung dalam satu ekosistem, akan muncul lebih banyak peluang untuk menciptakan nilai tambah.”
— Kurniawan Adi Prastyo
Rangkaian sesi bersama Kurniawan Adi menjadi bagian dari upaya AgroMeg dalam menghadirkan perspektif praktis bagi pelaku usaha sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Pembelajaran tersebut diharapkan dapat mendorong peserta untuk mengidentifikasi potensi yang dimiliki dan mengembangkannya melalui model bisnis yang lebih terintegrasi.
Melalui pengalaman Sedesa Farm, peserta MegPreneur Lamongan 2026 diajak melihat bahwa masa depan agribisnis tidak hanya terletak pada seberapa banyak produk dihasilkan, tetapi juga pada bagaimana membangun ekosistem, menciptakan nilai tambah, memanfaatkan teknologi, memperkuat kemitraan, dan memastikan produk memiliki pasar yang jelas. (htw)