Lamongan, 27 Agustus 2026 — Rangkaian Offline Session Program Inkubasi Bisnis Megilan Entrepreneur (MegPreneur) Lamongan 2026 berlanjut pada Kamis (27/8/2026). Memasuki hari kedua, kegiatan yang berlangsung di Gedung Lantai 7 Pemerintah Kabupaten Lamongan ini membawa peserta pada pembelajaran yang lebih mendalam mengenai kepemimpinan bisnis, tata kelola usaha sektor agrikultur, akses pembiayaan, inovasi pertanian, hingga strategi membangun pelanggan.
Jika pada hari pertama peserta mendapatkan perspektif mengenai pemanfaatan teknologi, marketing, dan peluang ekspor, Day 2 diarahkan untuk memperkuat fondasi internal bisnis sekaligus kemampuan membaca peluang eksternal. Sejumlah praktisi dan pelaku usaha berbagi pengalaman serta perspektif yang dapat diterapkan peserta sesuai dengan karakteristik bisnis masing-masing.
Leadership Menjadi Fondasi Pertumbuhan Bisnis
Sesi pertama menghadirkan Gus Anas Al Hifni dari Sunan Drajat Group Lamongan dengan materi Leadership Business.
Peserta diajak melihat bahwa seorang founder tidak hanya berperan sebagai pengambil keputusan, tetapi juga menjadi sosok yang menentukan arah, membangun kepercayaan, memberikan keteladanan, dan menggerakkan tim menuju tujuan bisnis yang sama.

Kepemimpinan yang kuat juga menjadi penting ketika bisnis mulai berkembang. Pertumbuhan usaha tidak dapat selamanya bergantung pada kemampuan individu founder, tetapi perlu ditopang oleh komunikasi, pembagian peran, budaya kerja, dan sistem yang memungkinkan bisnis berjalan secara lebih terarah.
“Bisnis yang ingin bertumbuh membutuhkan leadership yang jelas dan sistem yang tertata. Founder harus memiliki visi, mampu mengambil keputusan, menjadi teladan, sekaligus membangun tim dan sistem kerja agar bisnis tidak bergantung pada satu orang saja.”
— Gus Anas Al Hifni, Sunan Drajat Group Lamongan
Perspektif tersebut memberikan pemahaman kepada peserta bahwa membangun bisnis bukan hanya tentang produk dan penjualan, tetapi juga tentang bagaimana seorang pemimpin menciptakan sistem yang memungkinkan organisasi berkembang secara berkelanjutan.
Tata Kelola dan Efisiensi Menjadi Kunci Bisnis Agrikultur
Pembahasan kemudian berlanjut pada sektor agriculture dan peternakan melalui materi Commercial Poultry Business yang disampaikan oleh Slamet Widodo, Commercial Poultry JAPFA.
Sektor agrikultur memiliki karakteristik bisnis yang kompleks karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari produksi, fluktuasi harga, rantai pasok, kualitas produk, hingga perubahan kondisi pasar. Karena itu, keberlanjutan bisnis membutuhkan tata kelola yang disiplin dan kemampuan untuk membaca risiko maupun perubahan pasar.
Peserta mendapatkan perspektif mengenai pentingnya efisiensi dalam operasional, pengelolaan keuangan yang disiplin, manajemen risiko, serta pembangunan sistem pemasaran dan hubungan dengan pelanggan agar produk dapat terserap pasar secara konsisten.
“Bisnis agri membutuhkan efisiensi operasional dan tata kelola yang disiplin. Risiko harus dikelola, sementara pemasaran dan hubungan dengan pelanggan perlu dibangun secara konsisten agar bisnis mampu menjaga pasar dan bertahan menghadapi perubahan.”
— Slamet Widodo, Commercial Poultry JAPFA
Materi ini menjadi relevan bagi peserta MegPreneur, khususnya pelaku usaha yang bergerak di sektor agrikultur dan peternakan, untuk melihat bisnis tidak hanya dari sisi produksi, tetapi sebagai sebuah sistem yang harus dikelola secara menyeluruh.
Peluang Pembiayaan Terbuka bagi UMKM Lamongan
Penguatan kapasitas bisnis kemudian dilanjutkan dengan sesi Aksesibilitas Pendanaan Bisnis bersama Bank Jatim.
Dalam sesi ini, peserta mendapatkan informasi mengenai peluang pembiayaan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan usaha, baik untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pasar, maupun memenuhi kebutuhan modal kerja.
Namun, akses pembiayaan juga perlu diikuti kesiapan bisnis. Legalitas usaha, administrasi, pencatatan keuangan, rekam jejak usaha, serta kemampuan memenuhi kewajiban pembiayaan menjadi bagian penting dalam proses penilaian kelayakan usaha.
“Kesempatan pembiayaan bagi UMKM Lamongan terbuka. Yang perlu dipersiapkan pelaku usaha adalah fondasi bisnisnya, mulai dari legalitas, administrasi, hingga pencatatan keuangan yang tertata, sehingga kebutuhan pembiayaan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan usaha.”
— Bank Jatim Lamongan
Dengan pemahaman tersebut, peserta didorong untuk melihat pembiayaan bukan sekadar sebagai sumber tambahan modal, tetapi sebagai instrumen yang perlu dikelola secara terukur sesuai kebutuhan dan kemampuan bisnis.
Alumni AgroMeg Bagikan Pentingnya Inovasi di Sektor Pertanian
Rangkaian berikutnya menghadirkan Kurniawan Adi, Alumni AgroMeg, dalam sesi Talkshow Alumni MegPreneur dengan topik inovasi di bidang pertanian.
Kurniawan membagikan perspektif mengenai bagaimana inovasi dan digitalisasi dapat membantu meningkatkan efisiensi sekaligus daya saing bisnis pertanian. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperoleh data, mengelola operasional, memasarkan produk, hingga membangun hubungan dengan pelanggan.

Digitalisasi juga memungkinkan proses yang sebelumnya dilakukan secara manual menjadi lebih terukur dan terdokumentasi. Meski demikian, penerapan teknologi tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan skala bisnis agar benar-benar memberikan dampak terhadap produktivitas dan pertumbuhan usaha.
“Inovasi bukan sekadar menggunakan teknologi baru, tetapi bagaimana teknologi tersebut mampu membuat bisnis pertanian menjadi lebih efisien, terukur, dan kompetitif. Yang paling penting, inovasi harus disesuaikan dengan kebutuhan bisnis agar benar-benar memberikan dampak.”
— Kurniawan Adi, Alumni AgroMeg
Pengalaman alumni tersebut memberikan gambaran praktis kepada peserta mengenai bagaimana inovasi dapat diterapkan secara bertahap sesuai kebutuhan usaha.
Membangun Pelanggan dari Pasar Lokal
Sesi talkshow alumni juga menghadirkan Idham dari Risoldiers yang membahas “Localizing Pelanggan dalam Berbisnis”.
Idham mengajak peserta melihat pentingnya membangun kedekatan dengan pelanggan, khususnya dengan memahami karakteristik pasar lokal. Mendapatkan pelanggan baru bukan sekadar aktivitas promosi ketika penjualan sedang dibutuhkan, tetapi perlu dibangun sebagai proses yang berkelanjutan.
Untuk itu, bisnis dapat mengembangkan sistem akuisisi pelanggan melalui berbagai pendekatan, seperti rekomendasi, komunitas, kanal digital, kolaborasi, serta komunikasi yang konsisten. Dengan pendekatan tersebut, pertumbuhan pelanggan dapat terus dibangun dan tidak hanya bergantung pada pelanggan lama.
“Localizing pelanggan berarti memahami siapa yang ada di sekitar bisnis kita, apa yang mereka butuhkan, dan bagaimana membangun kedekatan dengan mereka. Pelanggan baru harus terus diciptakan melalui rekomendasi, komunitas, digital, kolaborasi, dan komunikasi yang konsisten.”
— Idham, Risoldiers
Pendekatan tersebut memperkuat pemahaman peserta bahwa membangun pasar bukan pekerjaan satu kali, melainkan proses yang perlu dirancang dan dijalankan secara konsisten.
Peserta Dipersiapkan Menghadapi Pitching Booth
Menjelang berakhirnya rangkaian Day 2, fasilitator Kusuma Academy, Handoyo Tejo Wasito, menyampaikan pengarahan mengenai agenda hari ketiga, khususnya pelaksanaan Pitching Booth.
Peserta mendapatkan gambaran mengenai tata kelola dan teknis pitching, termasuk alur pelaksanaan, durasi presentasi, serta sarana dan prasarana yang perlu dipersiapkan sebelum memasuki tahapan presentasi dan penjurian bisnis.
“Pada hari ketiga, peserta tidak hanya akan menampilkan produk, tetapi juga menyampaikan bisnis secara singkat, terstruktur, dan meyakinkan. Karena itu, persiapan booth, display, materi, serta kemampuan pitching perlu dipersiapkan sejak sekarang.”
— Handoyo Tejo Wasito, Fasilitator Kusuma Academy
Pengarahan ini menjadi jembatan dari proses pembelajaran menuju tahapan berikutnya, ketika peserta akan mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan bisnisnya di hadapan juri.
Dari Leadership hingga Pitching, Memasuki Tahapan Pengembangan Berikutnya
Rangkaian Offline Session Day 2 MegPreneur Lamongan 2026 memperluas perspektif peserta mengenai berbagai elemen yang menentukan keberlanjutan sebuah bisnis. Mulai dari bagaimana seorang founder memimpin dan membangun sistem, bagaimana bisnis agrikultur menjaga efisiensi dan mengelola risiko, hingga bagaimana pelaku usaha memanfaatkan pembiayaan, inovasi, dan strategi akuisisi pelanggan.
Pembelajaran juga mulai diarahkan pada kemampuan peserta untuk mengomunikasikan bisnis secara efektif melalui persiapan menuju Pitching Booth pada hari ketiga.
Dengan demikian, rangkaian Day 2 tidak hanya memperkuat pengetahuan bisnis, tetapi juga mempersiapkan peserta untuk menerjemahkan gagasan dan pengalaman yang diperoleh ke dalam praktik serta presentasi bisnis yang lebih terstruktur.