Lamongan, 28 Agustus 2026 — Program Inkubasi Bisnis Megilan Entrepreneur (MegPreneur) Lamongan 2026 menuntaskan rangkaian Offline Session melalui pelaksanaan hari ketiga sekaligus Closing Ceremony pada Jumat (28/8/2026). Berlangsung di Gedung Pemerintah Kabupaten Lamongan, kegiatan hari terakhir menjadi momentum bagi peserta untuk menerapkan pembelajaran selama dua hari sebelumnya melalui penguatan pemasaran digital, branding, ekonomi kreatif, hingga Pitching Booth dan penjurian bisnis.
Rangkaian hari ketiga menjadi tahap penting dalam perjalanan 200 peserta yang tergabung dalam 109 bisnis yang sebelumnya telah dinyatakan lolos ke Offline Session MegPreneur Lamongan 2026.
Setelah mendapatkan pembekalan mengenai marketing, AI, ekspor, leadership, tata kelola bisnis, pendanaan, inovasi, dan strategi pelanggan pada dua hari sebelumnya, peserta pada hari ketiga mulai membawa pembelajaran tersebut ke dalam praktik dengan mempresentasikan bisnis secara langsung di hadapan juri.
TikTok Dorong Bisnis Lebih Dekat dengan Pasar
Rangkaian pembelajaran hari ketiga diawali dengan materi Optimalisasi TikTok Shop untuk Bisnis yang disampaikan oleh Faisal Dzulfikar dari TikTok Shop by Tokopedia.
Peserta diajak melihat TikTok bukan sekadar sebagai media publikasi, tetapi sebagai salah satu kanal pemasaran dan pengembangan bisnis. Konten yang relevan dengan karakter audiens, konsistensi, eksperimen terhadap format dan hook, serta kemampuan membaca performa konten menjadi bagian penting dalam mengoptimalkan platform tersebut.

Faisal juga menekankan bahwa pelaku usaha tidak perlu semata-mata mengejar algoritma. Bisnis perlu memahami kebutuhan audiens, menguji berbagai pendekatan konten, kemudian menggunakan data seperti watch time, interaksi, dan konversi untuk menemukan pola yang paling efektif.
“TikTok dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk membuat produk dikenal, tetapi juga untuk mengembangkan bisnis. Kuncinya adalah memahami audiens, konsisten membuat konten, berani bereksperimen, dan membaca data untuk mengetahui konten seperti apa yang benar-benar bekerja bagi bisnis.”
— Faisal Dzulfikar, TikTok Shop by Tokopedia
Perspektif tersebut memberikan peserta pemahaman bahwa pemasaran digital membutuhkan proses eksperimen dan evaluasi yang berkelanjutan, bukan sekadar mengandalkan viralitas sebuah konten.
MegPreneur Dibangun sebagai Ruang Belajar dan Kolaborasi
Setelah sesi pemasaran digital, peserta mengikuti Recap Session Day 1 & Day 2 bersama Dedy Marquis.
Sesi ini menjadi ruang refleksi untuk mengolah kembali berbagai pembelajaran yang telah diperoleh peserta selama dua hari sebelumnya. Peserta dibagi dalam kelompok dan diminta mengidentifikasi insight yang dianggap relevan untuk diterapkan dalam pengembangan bisnis masing-masing.
Dalam sesi tersebut, MegPreneur juga ditekankan bukan sebagai ruang untuk mempertandingkan bisnis satu dengan lainnya, melainkan sebagai wadah untuk membangun jejaring, kolaborasi, dan pertumbuhan bersama.
“MegPreneur bukan hanya tempat untuk belajar bisnis, tetapi juga ruang untuk belajar bersama dan berkolaborasi. Apa yang kita dapatkan dari program ini seharusnya tidak berhenti di bisnis masing-masing, tetapi bisa berkembang menjadi jejaring dan kolaborasi antarpelaku usaha.”
— Dedy Marquis
Semangat tersebut menjadi salah satu fondasi dalam rangkaian program, bahwa pertumbuhan ekosistem kewirausahaan juga dapat dibangun melalui keterhubungan antarpelaku usaha.
Brand, Kepercayaan, dan Peluang Bisnis di Era Digital
Pembelajaran berikutnya menghadirkan Evan Haydar melalui materi Membangun Brand, Kepercayaan, dan Peluang Bisnis di Era Digital.
Peserta diajak memahami bahwa branding tidak berhenti pada logo, nama, atau tampilan visual. Sebuah brand dibentuk melalui kualitas produk, komunikasi, pelayanan, pengalaman pelanggan, serta konsistensi identitas bisnis.
Kepercayaan konsumen juga tumbuh melalui pengalaman positif yang berulang dan kemampuan bisnis memenuhi janji yang disampaikan kepada pelanggan. Karena itu, branding perlu dibangun secara konsisten dalam jangka panjang agar dapat memperkuat loyalitas sekaligus membuka peluang bisnis baru.
“Brand bukan hanya tentang bagaimana bisnis terlihat, tetapi tentang bagaimana bisnis dipercaya. Ketika identitas, kualitas, komunikasi, dan pengalaman pelanggan konsisten, kepercayaan akan tumbuh dan menjadi aset yang membuka peluang bisnis lebih besar.”
— Evan Haydar
Wakil Bupati: Rencana Boleh Belum Matang, tetapi Harus Berani Bertindak
Semangat untuk berani mengambil langkah kemudian kembali ditekankan dalam Sharing Session bersama Wakil Bupati Lamongan, Dirham Akbar Aksara.
Dalam sesi tersebut, Wakil Bupati mendorong peserta untuk tidak terlalu lama menunggu kondisi ideal sebelum memulai usaha. Perencanaan tetap diperlukan, tetapi proses belajar juga berlangsung melalui tindakan dan pengalaman langsung di lapangan.

“Rencana boleh belum matang, tetapi harus didahulukan ‘do and act’. Karena dari tindakan kita bisa belajar, dari proses kita bisa melakukan evaluasi, dan dari sana bisnis bisa terus diperbaiki.”
— Dirham Akbar Aksara, Wakil Bupati Lamongan
Dorongan tersebut sekaligus menjadi harapan agar Lamongan terus melahirkan generasi wirausaha baru yang mampu melihat peluang, berani memulai, dan mengembangkan potensi daerah melalui bisnis.
“Harapannya, Lamongan bisa terus mencetak entrepreneur-entrepreneur muda yang berani mengambil peluang, mampu mengembangkan potensi yang ada, dan pada akhirnya ikut menggerakkan perekonomian Lamongan.”
Pesan tersebut menjadi penguatan bagi peserta sebelum memasuki tahapan yang lebih praktis, yaitu mempresentasikan bisnis masing-masing dalam Pitching Booth.
Ekonomi Kreatif Buka Ruang Diferensiasi bagi Pelaku Usaha
Perspektif mengenai pengembangan bisnis kemudian diperluas melalui Talkshow Ekonomi Kreatif bersama Rian Septrianto Maulana dari Gekraf Jawa Timur.
Rian membahas lanskap ekonomi kreatif di Jawa Timur sekaligus tantangan pelaku usaha dalam menghadapi persaingan yang semakin dinamis. Ekonomi kreatif memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk membangun diferensiasi melalui kreativitas, inovasi, identitas lokal, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar.

Bagi sektor dengan tingkat persaingan tinggi, kreativitas perlu diterjemahkan menjadi nilai yang nyata dan relevan bagi konsumen. Pelaku usaha juga perlu memiliki positioning yang jelas agar produknya memiliki pembeda di tengah banyaknya pilihan di pasar.
“Ekonomi kreatif memberikan ruang yang luas bagi pelaku usaha untuk membangun diferensiasi. Kreativitas dan inovasi perlu dipadukan dengan identitas lokal serta kemampuan membaca kebutuhan pasar, sehingga produk memiliki karakter dan nilai yang kuat di mata konsumen.”
— Rian Septrianto Maulana, Gekraf Jawa Timur
Dari Ruang Pembelajaran ke Pitching Booth
Setelah rangkaian materi dan talkshow, peserta memasuki tahapan Pitching Booth dan penjurian.
Tahapan ini menjadi bentuk penerapan langsung dari pembelajaran yang telah diperoleh peserta selama program. Setiap bisnis mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan usaha secara singkat dan terstruktur, mulai dari produk atau jasa, permasalahan yang diselesaikan, keunggulan, target pasar, model bisnis, perkembangan usaha, hingga rencana pengembangan.

Peserta juga menampilkan produk atau representative sample sebagai bagian dari display bisnis. Dalam satu booth, peserta melakukan koordinasi mengenai pembagian area display, urutan pitching, penggunaan meja, serta penjagaan booth agar setiap bisnis memperoleh ruang dan kesempatan yang proporsional.
Dengan durasi pitching yang terbatas, peserta dituntut mampu menyampaikan inti bisnis secara ringkas, terstruktur, percaya diri, dan sesuai dengan kondisi usaha yang sebenarnya.
Tahapan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam proses inkubasi karena peserta tidak hanya diuji dari kemampuan memahami bisnis, tetapi juga dari kemampuan mengomunikasikan nilai dan potensi bisnis kepada pihak lain.
Menutup Tiga Hari Pembelajaran dan Praktik Bisnis
Setelah sesi pitching dan penjurian selesai, rangkaian MegPreneur Lamongan 2026 dilanjutkan dengan Closing Ceremony.
Agenda penutupan diisi dengan penampilan peserta, pengumuman peserta teraktif, peserta terfavorit, dan booth terfavorit, hiburan, keynote speaker, laporan program, serta pemutaran video rekap perjalanan tiga hari.
Dalam kesempatan tersebut, turut hadir Anggota Komisi VI DPR RI Ahmad Labib. Ia mengajak generasi muda untuk melihat perkembangan teknologi dan bonus demografi sebagai peluang yang perlu dipersiapkan sejak sekarang.

“Masa depan teknologi masih panjang, ini peluang kita. 2030 ke atas merupakan puncak demografi, harus kita tangkap, produk apa saja bisa kita pasarkan. Semangat untuk pemenang MegPreneur, masa depan masih panjang, peluang bisnis masih banyak, yang perlu diperbuat adalah produk inovatif.”
Pesan tersebut menekankan pentingnya kesiapan generasi muda untuk melihat perubahan teknologi dan demografi sebagai ruang pertumbuhan ekonomi serta peluang pengembangan produk dan bisnis.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, M.B.A. menyampaikan apresiasi atas kelancaran penyelenggaraan rangkaian inkubasi bisnis MegPreneur Lamongan 2026.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Lamongan juga menyerahkan secara simbolis sertifikat BNSP kepada 10 peserta penerima sertifikasi sebagai bagian dari penguatan kompetensi peserta.
“Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih Mas Labib yang nantinya akan mengajak pemenang ke Jakarta, studi karya ke beberapa perusahaan dan mampir ke sponsornya TikTok. Alhamdulillah dalam waktu 3 hari ini acaranya dapat terselenggara dengan sukses, terima kasih kepada seluruh tim yang mensupport acara, kita yakin dengan adanya generasi muda yang penuh bakat ini nantinya akan menjadi pengusaha sukses,” ucap Pak Yes.
Selain penyerahan sertifikat BNSP, Closing Ceremony juga menjadi momentum penerimaan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Program MegPreneur, yang diwakili oleh fasilitator Dedy Marquis dan Yoga Abi Zakaria. Piagam HKI tersebut diserahkan secara simbolis oleh Bupati Lamongan.
Menjadi Awal Perjalanan Bisnis yang Lebih Panjang
Berakhirnya Offline Session MegPreneur Lamongan 2026 tidak menjadi akhir dari proses pengembangan peserta. Tiga hari rangkaian kegiatan telah mempertemukan peserta dengan berbagai perspektif mengenai pemasaran digital, branding, ekonomi kreatif, leadership, tata kelola, pendanaan, inovasi, hingga kemampuan mempresentasikan bisnis.
Lebih dari sekadar rangkaian pembelajaran, MegPreneur juga membangun ruang bagi peserta untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, dan membuka peluang kolaborasi antarbisnis.
Dengan berakhirnya Offline Session, perjalanan peserta diharapkan berlanjut melalui implementasi, inovasi, kolaborasi, dan pengembangan bisnis secara berkelanjutan.
Dari belajar, mencoba, hingga berani mempresentasikan bisnis—MegPreneur Lamongan 2026 menjadi ruang bagi 200 peserta untuk membawa gagasan dan usaha mereka selangkah lebih dekat menuju pertumbuhan yang lebih besar. (htw)