Lamongan, 14 Agustus 2026 โ Rangkaian Online Session Program Inkubasi Bisnis Megilan Entrepreneur (MegPreneur) Kabupaten Lamongan 2026 memasuki hari kedua pada Jumat, 14 Agustus 2026. Pada hari terakhir sesi online ini, peserta mendapatkan pembekalan mengenai pengembangan potensi sektor agribisnis serta pemetaan model bisnis melalui Business Model Canvas (BMC).
Berbeda dengan hari pertama yang diawali dengan laporan kegiatan dan pembukaan resmi, rangkaian hari kedua langsung memasuki sesi pembelajaran bersama dua narasumber, yaitu Widia Ayu Wulandari dari PT Kerabatani Cerdas Indonesia pada sesi pertama dan Muhammad Shindid Maulana, CEO Kusuma Academy, pada sesi kedua.
Mengoptimalkan Potensi Agribisnis dari Hulu hingga Hilir
Sesi pertama menghadirkan Widia Ayu Wulandari dari PT Kerabatani Cerdas Indonesia. Dalam sesi ini, peserta diajak melihat sektor agribisnis secara lebih menyeluruh, khususnya mengenai bagaimana pengelolaan usaha dari sektor hulu hingga hilir dapat membuka peluang penciptaan nilai tambah.
Widia membahas berbagai aspek yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan bisnis di sektor agri, mulai dari mengidentifikasi permasalahan, memahami value chain, menemukan peluang penciptaan nilai tambah, hingga mengenali karakteristik dan kebutuhan customer.

Pendekatan tersebut memberikan perspektif bahwa potensi di sektor pertanian dan agribisnis dapat dikembangkan lebih jauh apabila pelaku usaha mampu melihat peluang secara lebih luas dan menghubungkan produk maupun sumber daya yang dimiliki dengan kebutuhan pasar.
Menutup sesi, Widia mengajak peserta untuk melihat potensi yang dimiliki dari sudut pandang yang berbeda serta terus membangun dan mengembangkan nilai dalam usaha secara konsisten.
โPotensi yang dimiliki rekan-rekan semua sebenarnya memiliki peluang. Yang kita perlukan adalah kemampuan untuk melihatnya dari sudut pandang yang berbeda dan mampu memberikan banyak value pada usaha rekan-rekan semua. Kemudian bagaimana kita membangun sebuah pasar juga mengembangkan semuanya itu dengan konsisten.โ
Ia juga berharap proses pembelajaran yang telah dilakukan dapat menjadi langkah awal bagi peserta untuk terus mengembangkan usahanya dan membawa pengalaman tersebut ke tahapan berikutnya.
โSemoga setelah ini rekan-rekan yang berbisnis bisa dimudahkan dan bisa dipertemukan dengan rekan-rekan semua di sesi selanjutnya dengan cerita dari rekan-rekan semua.โ
Lebih jauh, Widia menekankan bahwa langkah-langkah yang dilakukan pelaku usaha hari ini dapat memiliki kontribusi yang lebih luas terhadap perkembangan sektor ekonomi.
โDi sini setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini nantinya bisa menjadi bagian dari perubahan di sektor pertanian, UMKM, dan juga tentunya memperbaiki perekonomian Indonesia.โ
Memetakan Model Bisnis melalui Business Model Canvas
Sesi kedua menghadirkan Muhammad Shindid Maulana, CEO Kusuma Academy, dengan materi Business Model Canvas (BMC).
Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan pada pentingnya melakukan pemetaan model bisnis, terutama pada fase awal pengembangan usaha. Business Model Canvas menjadi salah satu alat bantu yang dapat digunakan pelaku usaha untuk melihat bagaimana bisnis menciptakan, menyampaikan, dan menghasilkan nilai.

Untuk memudahkan peserta dalam memahami BMC, Shindid membaginya ke dalam tiga kelompok utama, yaitu Zona Pelanggan, Zona Operasional, dan Zona Finansial.
Melalui pemetaan tersebut, peserta diajak untuk melihat hubungan antara pelanggan yang dilayani, aktivitas dan sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis, hingga bagaimana bisnis menciptakan dan memperoleh nilai ekonomi. Pemetaan yang dilakukan secara menyeluruh diharapkan dapat membantu pelaku usaha memahami posisi bisnisnya sekaligus menentukan area yang perlu diperkuat.
Dalam penutup materinya, Shindid menekankan pentingnya mengenali dan memperkuat sumber daya maupun keunggulan yang telah dimiliki oleh masing-masing pelaku usaha.
โKuatlah pada kekuatan. Teman-teman punya kekuatan apa, teman-teman punya resource apa, teman-teman punya relasi di mana, teman-teman punya produk apa, kuatlah dan fokus di situ.โ
Menurutnya, fokus pada kekuatan yang dimiliki dapat membantu sebuah bisnis membangun pembeda dibandingkan dengan bisnis lainnya.
โKarena kalau teman-teman kuat pada kekuatan teman-teman, maka akan menjadi โbedaโ dibanding yang lain. Itu yang akan menjadi value proposition.โ
Sebagai bagian dari tindak lanjut pembelajaran, peserta juga diarahkan untuk memanfaatkan materi dan canvas Business Model Canvas yang tersedia melalui platform Kusuma Academy sehingga peserta dapat melanjutkan proses pemetaan model bisnis secara mandiri.
Menjadi Penutup Rangkaian Online Session
Online Session MegPreneur Lamongan 2026 hari kedua berlangsung secara aktif dan interaktif. Peserta tidak hanya mengikuti materi, tetapi juga terlibat dalam diskusi dan menyampaikan berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan kondisi serta tantangan bisnis masing-masing.
Antusiasme tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran, karena peserta dapat menghubungkan materi yang disampaikan dengan situasi nyata yang sedang dihadapi dalam menjalankan maupun mengembangkan usaha.
Pelaksanaan hari kedua sekaligus menjadi penutup rangkaian Online Session MegPreneur Lamongan 2026. Setelah menyelesaikan tahapan pembelajaran online selama dua hari, seluruh peserta selanjutnya akan memasuki proses kurasi yang dilakukan oleh panitia.
Dari keseluruhan peserta yang mengikuti rangkaian program, nantinya akan ditentukan 200 peserta yang berkesempatan melanjutkan ke Offline Session MegPreneur Lamongan 2026.
Tahapan berikutnya diharapkan menjadi ruang pendalaman bagi peserta terpilih untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, jejaring, serta kesiapan bisnis melalui proses inkubasi yang lebih intensif.
Dengan berakhirnya Online Session, perjalanan MegPreneur Lamongan 2026 memasuki tahapan selanjutnya. Berbagai pengetahuan, perspektif, dan pengalaman yang telah diperoleh selama dua hari diharapkan dapat menjadi bekal bagi peserta untuk terus mengembangkan usaha dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki, baik pada sektor perdagangan maupun agribisnis.
MegPreneur Lamongan 2026 pada akhirnya tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun jejaring dan ekosistem kewirausahaan yang mendorong tumbuhnya pelaku usaha yang adaptif, inovatif, dan mampu menciptakan nilai tambah bagi daerah. (htw)